Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berdo'a dengan:
"اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ"
"Ya, Allah. Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Engkau menyukai maaf. Maka, maafkan aku."
Adakah malam ini malam yang dijanjikan itu? Hanya Allah Ta'ala yang tahu. Malam yang langitnya jernih, tiada awan gelap, sebagaimana malam yang kemarin. Lailatul qadar, kapankah ia datang? Inilah rahasia di antara rahasia-rahasia-Nya. Maka, ada yang mendapatkannya. Ada yang justru terlelap.
Kapankah lailatul qadar datang? Mari kita simak jawaban Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam ketika 'Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu bertanya:
"فِيْ رَمَضَانَ, فَالْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ, فإِنَّهَا فَيْ وِتْرٍ, فِيْ إِحْدَى وَعِشْرِيْنَ, أَوْ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ, أَوْ خَمْسٍ وَعِشْرِيْنِ, أَوْ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ, أَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِيْنَ, أَوْ فِيْ آخِرِ لَيْلَةٍ, >> فَمَنْ قَامَهَا ابْتِغَاءَهَا إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ"
“Di bulan Ramadhan. Maka carilah ia pada sepuluh malam terakhir. Karena malam (Lailatul Qadar) itu (terjadi) pada malam-malam gasal, pada malam ke dua puluh satu, atau dua puluh tiga, atau dua puluh lima, atau dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan, atau pada akhir malam (bulan Ramadhan). Barangsiapa yang menghidupkan malam itu untuk mendapatkannya dengan penuh harapan (pada Allah) kemudian dia mendapatkannya, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang." (HR. Ahmad).
Siapakah yang mendapat ampunan seluruhnya? Yang puasanya sepenuh iman, menghidupkan malam sepenuh iman dan pengharapan kepada Allah Ta'ala. Adakah kita termasuk yang sungguh-sungguh berpuasa & menghidupkan malam sepenuh iman? Rasanya, diri ini masih amat jauh.... :'(
Apakah yang dimaksud dengan malam gasal/ganjil itu? Apakah malam 21, 23, 25, 27 dan 29? Ataukah bilangan malam tersisa itu yang gasal? Sebagian ulama berpendapat bahwa malam gasal itu bukanlah malam 21 atau yang semisal, tetapi jumlah malam yang tersisa di bulan Ramadhan. Jika ini pendapat yang benar, maka apa bedanya malam 24 atau 23? Dan sungguh beruntunglah orang-orang yang mengisi malamnya dengan 'ibadah. Tetapi bukan bagian saya untuk memilih mana pendapat yang lebih rajih (kuat). Saya bukan orang yang 'alim dalam perkara ini.
Mari kita renungi sejenak sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
"Carilah lailatu qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari).
Malam keberapakah itu dari malam-malam terakhir yang tersisa? Wallahu a'lam bish-shawab. Hanya pada Allah Ta'ala pengetahuan tentang ini semua. Dan tidaklah Allah Ta'ala jadikan lailatul qadar sebagai misteri kecuali ada kebaikan besar di dalamnya. Tak seorang pun tahu persis kapan lailatul qadar itu datang, kecuali setelah berlalu sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Itu pun hanya bagi yang memahami tanda-tandanya.
Alangkah banyak dosa. Kian hari kian bertumpuk. Makin bertambah umur, makin banyak uzur untuk berbuat kebaikan. Apakah yang dapat diharap untuk menghapus dosa? Padahal amal shalih tak seberapa. Shalat pun tak sanggup berlama-lama. Tiada yang patut diharap dari amal tak seberapa ini untuk menghapus dosa-dosa. Tetapi jika mengingati hadis riwayat Ahmad tadi, maka alangkah beruntungnya andai dalam hidup kita ini, pernah (sekali saja) mendapati malam Lailatul Qadar dengan sepenuh iman dan harap kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Inilah karunia tertinggi, yakni pengampunan dosa yang telah lalu maupun akan datang (Adakah kita berkepantasan untuk meraihnya?). Beruntung pula yang meraih ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu (غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ). Adakah kita meraihnya?
Ataukah kelak kita memasuki 'Idul Fithri dalam keadaan tidak memperoleh ampunan apa pun atas dosa-dosa kita? Alangkah rugi. Kitakah itu?
Sungguh, ada tiga golongan yang malaikat Jibril do'akan celaka atasnya. Salah satunya adalah mereka yang mendapati bulan Ramadhan, tetapi melaluinya tanpa memperoleh ampunan dari Allah Ta'ala. Na'udzubillahi min dzaalik.
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Semoga bermanfaat :)
Sumber saya peroleh dari sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar